Di Metro Mini Malam Ini

14 November 2014

Di dalam Metro Mini tadi, seorang pengamen bercerita. Katanya dia berhenti sekolah karena tidak ada biaya.

Dia bilang kita ini beruntung. Bisa baca-tulis, sekolah sampai kuliah, dan kerja yang baik. Tidak seperti dirinya dan orang-orang di sekitarnya yang harus “bekerja di jalanan, menjual harga diri, tidur di pelataran toko”. Tidak bisa bersekolah karena keadaan.

Semoga, katanya, pemerintahan yang baru banyak membuat perubahan yang positif.

Presiden yang baru seorang pengusaha, sarjana. Satu di antara hanya 32% masyarakat Indonesia (dan dunia) yang merasakan bangku kuliah. Tapi kehidupannya, pembawaannya, tanpa jeda dengan rakyat biasa. Jutaan masyarakat merasakan kedekatan dengannya, meskipun ia tidak populer di kancah perpolitikan. Ia menjadi inspirasi bahwa seseorang yang biasa saja, dengan prestasi dan visi, bisa juga jadi pemimpin bangsa.

Bagi sang pengamen di depan saya, bagi tukang-tukang becak yang pernah saya tanyai di Yogyakarta, presiden baru ini membawa harapan baru. Harapan yang sangat, sangat besar. Untuk negara yang berdikari, pupuk bersubsidi, asuransi kesehatan. Harapan untuk akses terhadap pendidikan.

Malam ini mas pengamen protes, “9 tahun itu wajib belajar katanya biayanya ditanggung pemerintah. Tp kenyataannya pendidikan dijadikan komoditas bisnis oleh pemerintah dan oknum-oknum.”

Mungkin klise sekali kedengarannya? Kami, para penumpang bis, dan mungkin juga Anda, mungkin sering menutup telinga dan pikiran dari pertengkaran dan perpecahan politis, tapi semoga mas pengamen membuat kami sadar bahwa jeritan yang seperti ini tidak boleh ikut kita hiraukan.

Sepertinya dari waktu ke waktu saya butuh diingatkan. Mungkin semua orang butuh, sama seperti semua orang butuh pembenaran? Seperti saat naik motor di atas trotoar dengan wajah pura-pura bodoh, berkelahi di jalanan gara-gara kelakuan pengemudi di depan. Supaya tidak “hanya” memikirkan ponsel terbaru dan pakaian anak dan cicilan rumah. Sebelum jiwa terenggut oleh rutinitas pekerjaan dan kehidupan dan lain sebagainya sampai melupakan bahwa kita ini dilahirkan untuk berbuat sesuatu, untuk sekitar kita dan bahkan mungkin masyarakat yang lebih luas.

Saya sedang lelah. Tapi berkat orang ini, saya ingin mengasah semangat lagi.

Pemimpin baru, harapan baru.
Kita yang bersemangat, yang berbuat sesuatu.

Dan pengamen mulai menyenandungkan “Senandung Istri Bromocorah” milik Iwan Fals, membawa pikiran saya berkelana…

Senandung Istri Bromocorah

 

Nak, berhentilah

Jangan sekolah bapakmu sudah tak kerja

Nak, jangan menangis
Memang begini keadaannya

 

Pangkalan jatah
Di toko-toko dan di parkiran
Sudah bukan milik Bapak lagi

 

Nak, mari berdoa
Agar Bapak selamat dari penembakan
Berita gencar
Di setiap lembaran koran
Tentang dibunuhnya para bromocorah

 

Maafkan bapakmu anakku
Yang tak bisa membesarkanmu
Jangan kau benci bapakmu

Entah bagaimana masa depanmu
Entah bagaimana hari depanmu

 

Oh anakku,
Jangan kau ikuti jejak bapakmu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s