Tentang Teater

Tentang Teater

August 1, 2012|Posted in: catatan, mimpi, saya

Entah kenapa, pagi-pagi buta begini muncul keinginan menulis soal salah satu hal yang saya cintai. Kecintaan yang beberapa tahun terakhir terkubur. Bikin kangen. Kecintaan itu adalah: teater.

Awal Mula
Saya mulai mengenal teater sejak kelas 5 SD. Saat itu saya bersama salah satu sahabat saya iseng ikut ekstrakurikuler Drama. Pada pertemuan perdana saat itu kira-kira ada 15 peserta yang berkumpul. Seperti umumnya anggota ekskul seni sekolah selain ‘band’, 90% (bahkan mungkin 100%) darinya adalah perempuan. :) Lucunya, pertemuan perdana itu tidak berkesan bagi saya. Kami diperkenalkan pada dasar-dasar teater seperti olah vokal, olah tubuh, dan ekspresi. Cuma diperkenalkan dan tidak ada sesi latihan. Mungkin karena itulah, pertemuan perdana itu tidak berkesan. Ketika pulang, saya tidak bersemangat melanjutkan.

Cerita berubah ketika saya bertemu lagi dengan pertunjukan teater saat SMP. Saya kembali menjadi anggota ekskul Drama. Kami sempat berlatih rutin selama beberapa bulan, lebih serius dan intensif daripada di SD. Saya pun coba-coba berakting. Seorang teman berkomentar suatu hari,

“Anie (nama panggilan saya) aktingnya bagus deh. Natural banget.”

Kalimat ini beserta pelontarnya tak terlupakan hingga kini. :) Sepanjang tahun kami rutin berlatih, namun tidak pernah naik pentas. Kesempatan itu ada di tahun berikutnya.

Cinta Pertama
Saya bersyukur disekolahkan di tempat yang sangat eksploratif dan suportif akan segala bentuk pendidikan nonformal. Salah satunya adalah adanya tugas kelas Bahasa Indonesia berupa pertunjukan drama kelas pada tahun kedua SMP. Tugas ini bukan tugas sederhana seperti drama 10 menit di depan kelas dengan persiapan 30 menit, melainkan drama berdurasi 90-120 menit di sebuah teater kecil (ya, kami punya teater kecil lengkap dengan ruang ganti dan perlengkapan audio serta pencahayaan :) ) dengan persiapan sepanjang tahun ajaran. Penonton kami adalah murid-murid kelas lain, guru, orangtua, dan beberapa tamu undangan.

Guru Bahasa Indonesia saya saat itu orang yang luar biasa. Beliau penyair sejati, sastrawan rendah hati, ceria dan sederhana, komik yang kadang nyeleneh dengan selera humor yang tidak dimengerti semua orang. Lebih dari itu, beliau juga seorang pecinta teater, aktor profesional yang bermain dengan Teater Koma, grup teater terbesar di Indonesia yang kini berusia lebih dari 35 tahun. Sejak pertama menjadi murid beliau saya resmi mengangkatnya sebagai guru favorit, dan gelar tersebut tetap bertahan hingga sekarang. (Oke, saya harus membuat satu tulisan khusus untuk beliau.)

Beliau menjadi pembimbing kami dalam proses persiapan pertunjukan ini. Cerita kami tentukan bersama, jujur saya lupa judulnya, tapi ceritanya adalah tentang seekor ikan ajaib yang bernama Leungli. Latar ceritanya suatu desa di Jawa Barat. Naskah kami percayakan pada salah satu teman kami yang terbaik dalam menulis (dan ia terus melangkah di jalur tersebut — kuliah jurusan Sastra, jurusan yang tidak pernah berani saya ambil :) ). Saya sedikit membantu lewat satu-dua adegan. Ingin bisa menulis sebagus dirinya tapi tak bisa. :p

Kami benar-benar tim profesional. Ada Produser, Sutradara, Asisten Sutradara, Manajer Panggung, Penata Musik, Pencahayaan, Kostum, Properti, Dekorasi, dan lain-lain. Saya menempatkan diri sebagai Asisten Sutradara. Kenapa bukan Sutradara? Kalah dalam persaingan “politik”, saya kurang pandai memikat. :p Saya juga memainkan satu peran sebagai ibu-ibu buta yang menjadi bisa melihat berkat keajaiban sang ikan (peran sungguh menantang, bukan? Hahaha). Saya benar-benar menikmati seluruh proses persiapan dan pementasan drama ini. Pemilihan aktor dan aktris utama, ‘kerusuhan’ yang kerap terjadi, terutama latihan-latihan rutin, benar-benar kegiatan yang menyenangkan bagi saya.

Tugas saya sebagai Asisten Sutradara membuat saya punya wewenang memberi kritik dan saran untuk seluruh pemain, >:) dan latihan rutin praktis membuat saya hafal seluruh adegan dan dialog. Dan seluruh rangkaian itu, sungguh, luar biasa indah. :) Orang bilang, jatuh cinta itu tidak ketahuan kapan terjadinya. Saya tidak yakin, tapi, saya rasa, saat melakukan tugas inilah saya jatuh cinta sebenar-benarnya pada teater. Jatuh cinta sepenuh hati pada akting.

Semakin Cinta
Cinta itu saya bawa ke bangku SMA. Saya ikut klub Seni dengan subdivisi Teater (sempat juga ikut Paduan Suara — tapi bukan panggilan jiwa :p ). Bersama klub ini kami bermain berkali-kali. Kami bermain di acara-acara sekolah, kecil maupun besar, internal maupun eksternal. Drama bernaskah maupun pertunjukan olah tubuh. Pertunjukan terbesar dan paling membanggakan yang kami lakukan adalah drama pendek yang merupakan bagian dari sebuah konsep Pertunjukan Teater 24 Jam Non Stop. Tidak tanggung-tanggung (publikasinya), panggung pertunjukan didirikan di samping jalan Sudirman, jalan utama Jakarta. Tepatnya di pelataran samping komplek Gelora Senayan, dekat lapangan softball.

Kami bermain menghadap jalan utama Sudirman, ditonton oleh ratusan pengendara mobil dan pejalan kaki yang sengaja atau tidak sengaja melewati pelataran. Sensasi saat itu luar biasa. Saya masih ingat ketegangan yang menekan, kebanggaan yang membuncah. Peran saya waktu itu adalah seorang ibu (ya ya, lagi-lagi ibu-ibu. Saya memang spesialis peran ini :p ) dengan seorang anak perempuan yang ingin menikah. Selebihnya saya tidak ingat. Kalau saya tidak salah ingat, pertunjukan teater 24 jam ini memainkan secara garis besar sebuah naskah cerita (sangat) panjang dengan melibatkan banyak kelompok teater.

Meskipun diliputi rasa tegang, saya menikmati setiap detik yang saya jalani di atas panggung tersebut. Meskipun seringkali takut melakukan kesalahan, memori hari itu terus melekat di benak saya sebagai penampilan saya yang terbesar. Dan sungguh saya senang melakukannya.

Hilang
Namun sedihnya, selepas SMA, hubungan saya dengan kekasih terputus. Pada tahun 2006, tahun pertama saya di masa kuliah, klub teater di kampus saya sedang mati suri. Saya sempat ikut latihan beberapa kali, namun saya tidak merasakan energi yang saya cari dan arah yang saya butuhkan. Latihanpun tidak dilakukan rutin, dan atmosfernya tidak membuat saya bersemangat. Sempat terpikir untuk ‘membangunkan’ klub ini, tapi saya bukan siapa-siapa di hadapan generasi senior dan saya tidak punya cukup fokus untuk itu. Pernah juga terpikir untuk ikut klub lain di luar kampus, tapi apalagi itu.

Saya putuskan untuk tidak melanjutkan keikutsertaan, dan menaruh fokus 100% pada klub film (dengan mimpi baru sebagai pembuat film). Keputusan ini tidak pernah saya sesali, namun tak ayal membuat saya sejak itu rindu berteater. Saya memuaskan haus dengan menonton sebanyak mungkin pertunjukan di Bandung (kota tempat kuliah), juga dengan menonton sebanyak mungkin film, dan menonton Teater Koma ketika ada kesempatan.

Teater Koma
Jika teater adalah kekasih, maka Teater Koma adalah pria idaman saya. Pertunjukan pertama yang saya saksikan adalah “Kunjungan Cinta” di tahun 2005. Umur saya sembilanbelas. Saya baru mengenal nama Pak Nano dan Ibu Ratna Riantiarno saat itu. Pasangan luar biasa yang tidak pernah berhenti memperjuangkan kelangsungan hidup buah cinta mereka melalui berbagai hambatan dan rintangan.

Teater Koma - teaterkoma.blogspot.com

Saya kagum luar biasa ketika melihat properti, dekorasi, kostum, dan tata rias Koma yang begitu indah dan mendetail. Masih begitu jauh di luar pemahaman saya. Saya tambah kagum seiring bertambahnya perhatian saya pada naskah lakon. Dialog yang ditulis, pesan tersirat dan sarkasme khas teater, dirangkai dengan penuh presisi. Dan kami kira naskah kami sudah begitu jeli. Kekaguman saya terus memuncak selama meresapi dan menyaksikan akting seluruh aktor dan aktris, seluruh pemilik panggung. Seperti yang selalu kami yakini dalam berteater, tidak ada peran yang tidak penting. Karakter pria pembawa panji di ujung belakang barisan kanan itu (ya, pria kecil yang tertutup orang di depannya itu) sama pentingnya dengan karakter ksatria berkuda yang dalam adegan berikutnya akan membunuh raja dan memicu peperangan terbesar abad ini. Begitu terlihat bagaimana semua pemain melakukan bagian masing-masing dengan sebaik-baiknya. Dan lebih terlihat lagi, setiap orang menikmati setiap detiknya. :)

Republik Petruk

Kekaguman saya mencapai titik puncak ketika dimainkan sebuah adegan penting. Sebuah monolog. Oleh karakter seorang guru yang sedang meratap. Saya tidak ingat apa yang ia ratapi, tapi detil tersebut tidak penting. Yang penting adalah, bagaimana saya terpukau dengan aktingnya. Dengan ratapan penuh penderitaannya. Sampai sekarang saya masih ingat betul bagaimana tata rias sang guru tersebut, bagaimana pencahayaan yang dirancang, bagaimana parau suaranya yang membelah kesunyian teater besar Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki. Sampai sekarang saya masih kagum pada tokoh guru tersebut, yang dengan luar biasa dimainkan oleh guru saya sendiri. Guru Bahasa Indonesia saya di masa SMP yang menjadi favorit saya hingga kini. Ini seakan bukti saya memberikan gelar ke orang yang tepat. Padahal saya tidak butuh bukti.

Setelah Kunjungan Cinta, saya menonton lagi beberapa lakon Teater Koma. Seperti sewajarnya, ada naik dan turun, ada pertunjukan yang lebih baik dari yang lainnya. Tapi Koma tidak pernah mengecewakan saya. Kini tampuk kepemimpinan Koma sedang dialihkan ke anak pasangan Riantiarno, Rangga Riantiarno. Saya berharap dan terus mendukung agar kualitas produksi Koma yang akan datang terus berkembang.

Rangga Riantiarno - www.djarumfoundation.orgKel. Riantiarno di Sie Jin Kwie - media.vivanews.com

Selain Koma, saya juga beberapa kali menonton pertunjukan di Komunitas Salihara. Kelompok-kelompok teater lebih kecil yang tetap menarik. Saya terakhir menghadiri pertunjukan pada tahun 2011. Kini sudah lebih dari satu tahun saya absen. Dan saya benar-benar rindu. Tentu selalu ada keinginan menyambangi teater di belahan dunia lain ini, namun segala keterbatasan membuat saya berjanji pada diri sendiri untuk mencoba lagi pada saatnya nanti. Seperti halnya janji saya pada diri sendiri untuk menghidupkan kembali bagian diri yang mati suri ini.

Saya masih punya mimpi untuk mengejar cinta dan “pria idaman” saya. Suatu saat nanti, saya akan kembali. Ke atas panggung, mengalihkan diri ke lain pribadi. Kembali merasakan energi yang mengalir dalam setiap sendi. Membawa emosi dan makna dalam setiap kalimat dan diksi. Memaknai setiap gerakan jari, setiap hentakan kaki. Suatu hari nanti, saya akan menonton Anda yang duduk di kursi merah empuk menikmati permainan kami. Jika Anda merasa bertatap pandang dengan saya, tidak perlu melambai ramah. Terima kasih banyak, tapi kemungkinan besar saya tidak bisa melihat wajah Anda, dan ketahuilah bahwa senyum saya di atas panggung adalah untuk Anda. Suatu hari nanti, saya harap bisa menulis undangan di blog ini. Dan membawa Anda ke dunia kami. Ke dunia mimpi yang saya cintai. Dan siapa tahu, Anda akan jatuh cinta pula pada dunia ini. Jika sampai terjadi, jangan khawatir, (hanya) untuk ini, saya mendukung poligami.

1 Comment

  1. esahak
    January 1, 2013

    Leave a Reply

    Hmm asik menarik imajinatif , anie e e e e tar kalo ke bdg aku ajak ke kantong2 teater yg ada bdg deh ,hehe coming soon

Leave a Reply

*



You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>